Ramadan H29 Menjelang Usai Ramadan, Makna Halal Bihalal

 


Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 272)



 

 

Hari ke-29 Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda. Ibadah hampir mencapai garis akhir, tetapi justru di titik ini muncul pertanyaan penting: apa yang benar-benar kita bawa setelah sebulan menahan diri? Di sinilah relevansi halal bihalal mulai terasa, bahkan sebelum Idul Fitri tiba.

 

 

Sering kali halal bihalal dipahami sebatas tradisi tahunan ritual bersalaman, saling mengucap maaf, lalu selesai. Padahal jika ditarik lebih kritis, praktik ini menyimpan pesan yang lebih dalam: keberanian untuk menutup konflik tanpa syarat. Ini menarik, karena dalam kehidupan sehari-hari, manusia cenderung menunggu permintaan maaf, bukan memberi lebih dulu.

 

 

Ramadan sebenarnya sudah melatih itu. Menahan amarah, menjaga lisan, dan meredam ego adalah fondasi yang mengarah pada sikap pemaaf. Namun latihan ini sering berhenti sebagai ibadah personal. Halal bihalal lalu hadir sebagai jembatan untuk mengubahnya menjadi tindakan sosial.

 

 

Yang jarang disadari, halal bihalal juga menguji kejujuran batin. Apakah permintaan maaf hanya formalitas, atau benar-benar kesadaran untuk memperbaiki relasi? Di tengah budaya seremonial yang kuat, pertanyaan ini menjadi penting. Tanpa refleksi, halal bihalal bisa kehilangan makna dan berubah menjadi sekadar rutinitas tahunan.

 

 

Di sisi lain, tradisi ini justru menunjukkan kekuatan budaya Indonesia. Tidak banyak negara memiliki mekanisme sosial yang secara kolektif “memaksa” warganya berdamai. Bahkan keterlibatan lintas agama dalam halal bihalal memperlihatkan bahwa nilai memaafkan telah melampaui batas identitas.

 

 

Ramadan H29 seharusnya menjadi momentum evaluasi: sudah sejauh mana kita siap memaafkan tanpa diminta? Karena pada akhirnya, kemenangan Idul Fitri tidak diukur dari banyaknya ucapan, tetapi dari kemampuan menghapus luka yang belum sempat diselesaikan.

 

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

Post a Comment

أحدث أقدم