Ramadan H27 Idul Fitri Kembali Makan atau Kembali Suci

 

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 270)



 

 

Ramadan hari ke-27 sering jadi momen refleksi paling jujur: apa yang sebenarnya kita kejar selama sebulan ini? Apakah sekadar menahan lapar dan haus, atau benar-benar sedang membersihkan diri menuju Idul Fitri?

 

 

Banyak orang memahami Idul Fitri sebagai “hari kemenangan”. Tapi kemenangan atas apa? Jika hanya berhasil tidak makan dan minum di siang hari, rasanya itu terlalu sederhana. Padahal, makna Idul Fitri jauh lebih dalam dari sekadar berakhirnya puasa.

 

 

Secara sederhana, Idul Fitri memang berarti kembali makan. Setelah sebulan penuh menahan diri, kita kembali ke kebiasaan normal. Tapi kalau berhenti di sini, maknanya jadi dangkal. Karena ada makna kedua yang justru lebih penting: kembali ke fitrah, kembali menjadi manusia yang bersih.

 

 

Konsep fitrah ini menarik. Dalam Islam, manusia lahir tanpa dosa. Tidak ada istilah dosa turunan. Artinya, Ramadan adalah kesempatan “reset” bukan simbolik, tapi spiritual. Puasa, salat, dan ibadah lain adalah proses pembersihan. Idul Fitri adalah hasilnya.

 

 

Masalahnya, realitas hari ini sering berbanding terbalik. Menjelang lebaran, fokus justru bergeser ke hal-hal yang sangat duniawi: baju baru, makanan berlimpah, perjalanan mudik, hingga gengsi sosial. Semua itu tidak salah, tapi jadi problem ketika menggeser makna utama.

 

 

Padahal, syariat Idul Fitri sangat sederhana dan bermakna. Takbir untuk mengagungkan Tuhan, salat berjamaah sebagai simbol kebersamaan, bahkan anjuran makan sebelum salat sebagai tanda berakhirnya puasa. Semuanya punya pesan spiritual yang kuat.

 

 

Di titik ini, Ramadan H27 seperti pengingat terakhir. Apakah kita benar-benar berubah, atau hanya menjalani rutinitas tahunan? Karena pada akhirnya, Idul Fitri bukan soal kembali makan, tapi apakah kita benar-benar kembali menjadi manusia yang lebih bersih.

 

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

Post a Comment

أحدث أقدم