Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 263)
Ramadan hari ke-22 selalu
menghadirkan suasana yang berbeda. Banyak masjid mulai dipenuhi jamaah yang
memilih beriktikaf, memperpanjang salat malam, dan membaca Al-Qur’an lebih lama
dari biasanya. Ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan bagian dari
tradisi umat Islam dalam “berburu” Lailatul Qadar.
Namun di balik semangat
itu, ada satu pertanyaan menarik yang jarang dibahas secara terbuka: apakah
Lailatul Qadar benar-benar datang setiap Ramadan, atau sebenarnya hanya sebuah
peristiwa sejarah yang terjadi sekali saja?
Sebagian ulama melihat
Lailatul Qadar melalui pendekatan historis. Mereka menafsirkan malam kemuliaan
itu sebagai momen ketika Allah menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Sidratul
Muntaha ke langit dunia. Peristiwa tersebut menjadi titik awal turunnya wahyu
kepada Nabi Muhammad secara bertahap selama lebih dari dua puluh tahun. Jika
mengikuti pendekatan ini, Lailatul Qadar lebih dipahami sebagai peristiwa
monumental dalam sejarah wahyu, bukan peristiwa yang terus berulang setiap
tahun.
Namun pandangan lain
melihatnya secara berbeda. Banyak hadis menyebut Rasulullah meningkatkan ibadah
pada sepuluh malam terakhir Ramadan dan menganjurkan umat Islam mencari
Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil. Dalam perspektif ini, Lailatul Qadar
dipahami sebagai momentum spiritual yang tetap terbuka setiap tahun bagi siapa
pun yang bersungguh-sungguh beribadah.
Perbedaan pandangan ini
sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Justru di situlah menariknya tradisi
Ramadan. Lailatul Qadar bukan hanya soal menemukan satu malam yang misterius,
tetapi tentang bagaimana manusia didorong memperbanyak amal di penghujung
Ramadan.
Sering kali orang terlalu
fokus “menemukan malamnya”, seolah jika tidak mendapatkannya maka ibadahnya
sia-sia. Padahal logika spiritual Ramadan justru sebaliknya. Semua ibadah di
bulan ini dilipatgandakan nilainya.
Karena itu, Ramadan H22
seharusnya menjadi pengingat sederhana: ini fase sprint sebelum garis akhir.
Bukan waktunya memperdebatkan kapan Lailatul Qadar datang, tetapi saat terbaik
untuk memperbanyak ibadah.
Jika malam kemuliaan itu
benar-benar datang, ia adalah anugerah. Tetapi jika tidak terasa sekalipun,
setiap doa dan sujud tetap bernilai di hadapan Tuhan. Itulah sebenarnya pesan
paling dalam dari sepuluh malam terakhir Ramadan.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

Posting Komentar