Ramadan H11: Sedekah Bukan Sekadar Tradisi



Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 252)



 

Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang menenangkan: kotak amal terisi, paket sembako dibagikan, dan unggahan berbagi memenuhi lini masa. Namun memasuki hari ke-11 Ramadan, ada pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah sedekah kita benar-benar lahir dari kesadaran takwa, atau sekadar mengikuti arus musiman?

 

 

Sedekah sejatinya bukan aktivitas tungguan orang kaya. Al-Qur’an menggambarkan ciri orang bertakwa sebagai mereka yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit. Artinya, ukuran memberi bukan pada besar kecilnya nominal, tetapi pada konsistensi dan keikhlasan. Justru di sinilah letak ujian terbesarnya.

 

 

Masalahnya, budaya sedekah kita sering bersifat “meledak di Ramadan, meredup setelah Lebaran”. Padahal secara makna, lafaz yunfiquuna dalam Al-Qur’an menunjukkan tindakan yang terus berlangsung sekarang dan masa depan. Sedekah yang hidup adalah sedekah yang berdenyut sepanjang tahun, bukan hanya ramai saat suasana religius sedang tinggi.

 

 

Dari sudut pandang lain, sedekah juga layak dibaca sebagai investasi. Bukan semata janji pahala berlipat, tetapi investasi sosial yang dampaknya nyata. Ketika sedekah diarahkan untuk pendidikan, pemberdayaan usaha kecil, atau penguatan literasi, efeknya jauh lebih panjang dibanding bantuan konsumtif sesaat.

 

 

Yang sering luput, sedekah tidak selalu soal uang. Memberi waktu untuk mengajar, berbagi ilmu, menyumbang buku, bahkan mendengarkan keluh kesah orang lain semua itu bagian dari sedekah yang bernilai tinggi. Dalam masyarakat yang makin individualistis, bentuk sedekah nonmateri justru semakin mendesak.

 

 

Memasuki Ramadan H11, momentum masih hangat. Ini waktu yang tepat untuk menggeser cara pandang: dari sedekah sebagai tradisi tahunan menjadi karakter harian. Sebab pada akhirnya, ukuran takwa bukan seberapa ramai kita memberi di Ramadan, tetapi seberapa konsisten kita berbagi setelah Ramadan berlalu.

 

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

Post a Comment

أحدث أقدم