Festival Garut Teguhkan Komitmen Lindungi Hak Anak

 

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Duta Literasi Kabupaten Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 173)



 

Suasana pagi di halaman Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut tampak berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.30, ratusan peserta telah memenuhi area registrasi. Mereka datang dari berbagai kalangan: siswa SMP, MTs, komunitas anak muda, hingga organisasi masyarakat. Semua hadir dengan semangat yang sama, yaitu ikut menyuarakan gerakan “Garut Tanpa Kekerasan dan Perkawinan Anak”.

 

 

Festival ini dibuka dengan suasana khidmat. Tari pembukaan oleh siswa, lantunan ayat suci Al-Qur’an, hingga lagu Indonesia Raya menghadirkan nuansa kebersamaan yang kuat. Ketua Panitia, Dr. Endang Kasupardi, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini adalah langkah nyata membangun masa depan Garut yang ramah anak. Rektor IPI, Prof. Dr. Nizar Alam Hamdani, juga menekankan bahwa pendidikan adalah benteng utama dalam melindungi anak.

 

 

Puncak acara ditandai dengan ketukan gong oleh Kadisdik Garut, sebagai simbol dimulainya festival. Tepuk tangan meriah menggema, seakan menjadi janji bersama: masyarakat Garut siap melawan kekerasan dan perkawinan anak.

 

 

Salah satu momen paling berkesan adalah Deklarasi Bersama. Perwakilan anak muda Garut membacakan komitmen dengan lantang: menolak segala bentuk kekerasan serta praktik perkawinan dini. Kehadiran Kadisdik Garut sebagai saksi menambah legitimasi bahwa suara generasi muda patut dihargai.

 

 

Tak berhenti di sana, festival juga menampilkan pameran karya kreatif anak muda Garut. Poster edukasi, karya seni, hingga inovasi digital ditampilkan sebagai bukti bahwa anak-anak bukan hanya objek perlindungan, melainkan subjek perubahan. Kreativitas ini semakin menguatkan pesan bahwa perlindungan anak bisa diwujudkan lewat banyak cara, termasuk seni dan teknologi.

 

 

Diskusi publik bertema “Garut Tanpa Kekerasan dan Perkawinan Anak” menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan. Mereka membedah persoalan kekerasan anak dan perkawinan dini yang masih terjadi di Garut, sekaligus menawarkan solusi konkret. Forum ini menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk menyampaikan ide segar, sekaligus menantang pemerintah dan masyarakat agar lebih serius menindaklanjuti komitmen bersama.

 

 

Selepas rehat siang, suasana berubah meriah lewat panggung seni. Beragam penampilan siswa, mulai dari tari tradisional, musik, drama, hingga puisi, mencerminkan suara hati anak-anak yang mendambakan kehidupan tanpa kekerasan. Pentas seni ini bukan sekadar hiburan, tetapi pesan moral yang menyentuh siapa saja yang menyaksikannya.

 

 

Menjelang penutupan, digelar sesi penghargaan untuk booth dan sekolah terbaik, serta kategori Best Supporter. Suasana penuh sorak-sorai membuat festival semakin hidup, menegaskan semangat kebersamaan yang telah terbangun sejak pagi.

 

 

Akhirnya, doa bersama menutup rangkaian acara. Namun pesan festival jauh lebih panjang dari sekadar satu hari kegiatan. Gerakan ini menjadi simbol tekad bersama: pemerintah, sekolah, masyarakat, dan anak muda berdiri sejajar untuk memastikan setiap anak Garut bisa tumbuh, belajar, dan bermimpi tanpa bayang-bayang kekerasan maupun perkawinan dini.

 

 

Seperti diungkapkan seorang peserta dari komunitas Genre Garut, “Hari ini kami buktikan, anak muda bisa jadi motor perubahan. Kami tak mau lagi melihat teman sebaya kehilangan masa depan karena dipaksa menikah dini.”

 

 

Festival ini mungkin baru awal. Namun dari awal inilah akan lahir langkah lebih besar, kebijakan lebih kuat, dan gerakan sosial yang terus menyala demi melindungi masa depan anak-anak Garut.

 

Post a Comment

أحدث أقدم