Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia
Manusia sering mengira bahwa mengetahui sesuatu berarti telah menguasainya. Dalam pendidikan, anggapan ini tidak selalu benar. Seorang peserta didik mungkin dapat menjawab pertanyaan dengan baik, tetapi belum tentu ia mampu menerapkan jawabannya dalam kehidupan. Ia mungkin mengetahui bahwa jujur itu baik, tetapi ketika berhadapan dengan kepentingan, belum tentu ia tetap jujur. Ia mengetahui bahwa sabar itu penting, tetapi ketika menghadapi masalah, belum tentu ia mampu bersabar.
Demikian pula dalam persoalan iman. Mengetahui kalimat syahadat tidak selalu berarti seseorang telah menjadikan tauhid sebagai dasar kehidupannya. Menghafal ajaran agama berbeda dengan menghayati dan mengamalkannya. Karena itu, pendidikan Islam yang sesungguhnya tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan. Pendidikan harus sampai pada pembentukan kepribadian.
Hadis berikut memberikan pelajaran yang sangat penting tentang hal tersebut.
عن البراءِ بن عازب رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((المُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ في القَبْرِ يَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا الله وَأنّ مُحَمّدًا رَسُول الله، فذلك قوله تَعَالَى: {يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَة})) [إبراهيم: 27]. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
قال ابن عباس رضي الله عنهما: من دام على الشهادة في الدنيا يلقِّنه الله تعالى إياها في قبره.
Dari Al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhumā, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda:
“Seorang Muslim apabila ditanya di dalam kubur, ia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Swt dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah firman Allah Ta‘ālā: ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.’”
Muttafaq ‘alaih
(HR. Bukhari & Muslim)
Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata:
“Barang siapa senantiasa teguh di atas syahadat ketika di dunia, Allah Ta‘ālā akan menuntunnya untuk mengucapkannya di dalam kuburnya.”
Hadis ini menjelaskan bahwa keadaan manusia di alam kubur berkaitan dengan keimanannya ketika hidup di dunia. Hubungan ini penting diperhatikan. Seseorang yang ditanya di alam kubur tidak sedang mengikuti ujian hafalan. Ia tidak cukup hanya mengingat jawaban yang pernah dipelajarinya. Keteguhan dalam menjawab merupakan pertolongan Allah kepada orang yang benar-benar beriman.
Di sini kita memahami bahwa iman memiliki hubungan dengan pembiasaan. Apa yang dibiasakan dalam kehidupan akan berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Orang yang terbiasa berkata jujur akan lebih mudah berkata jujur. Sebaliknya, orang yang terbiasa berdusta akan merasa semakin mudah melakukannya. Kebiasaan secara perlahan membentuk karakter.
Prinsip ini berlaku pula dalam pembentukan iman dan tauhid.
Kalimat:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Swt, dan Muhammad adalah utusan Allah.”
harus menjadi bagian dari kehidupan, bukan hanya bagian dari hafalan. Seseorang yang benar-benar memahami *la ilaha illallah* akan berusaha menempatkan Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa harta bukan tujuan akhir, jabatan bukan tujuan akhir, dan pujian manusia juga bukan tujuan akhir.
Harta boleh dimiliki. Jabatan boleh dicari. Kehormatan boleh diperoleh. Namun semuanya tidak boleh mengambil tempat Allah dalam hati manusia.
Persoalannya, banyak manusia memahami tauhid secara teoritis, tetapi belum tentu secara praktis. Ketika kepentingan dunia datang, prinsip mudah berubah. Ketika menghadapi tekanan, kebenaran kadang ditinggalkan. Ketika memperoleh kedudukan, sebagian manusia lupa bahwa kekuasaan adalah amanah.
Karena itu, tauhid harus dididikkan dan dilatih.
Allah Swt berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
“Allah Swt meneguhkan orang- orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”Dan Allah menyesatkan orang- orang yang dzalim dan Allah Swt berbuat apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Ibrahim : 27)
Ayat ini mengajarkan bahwa keteguhan adalah pemberian Allah. Tetapi pemberian Allah tidak boleh dipahami sebagai alasan bagi manusia untuk tidak berusaha. Manusia tetap berkewajiban beriman, beramal saleh, belajar, dan membiasakan diri berada dalam kebaikan.
Di dalam pendidikan terdapat suatu prinsip sederhana: sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akan semakin mudah dilakukan. Karena itu, pembentukan karakter tidak cukup melalui nasihat. Nasihat diperlukan, tetapi harus disertai latihan dan pembiasaan.
Anak yang hanya diberi pengetahuan tentang kejujuran belum tentu menjadi jujur. Ia harus dibiasakan berkata jujur. Demikian pula seseorang yang mengetahui pentingnya salat harus membiasakan dirinya menjaga salat. Pengetahuan menjadi kuat ketika bertemu dengan pembiasaan.
Iman juga demikian.
Keteguhan iman tidak lahir dalam satu malam. Ia dibangun melalui proses. Ada proses belajar, memahami, meyakini, mengamalkan, dan mengulangi amal tersebut. Karena itu, istiqamah merupakan salah satu bentuk pendidikan diri yang berlangsung seumur hidup.
Seseorang mungkin pernah berbuat salah. Itu wajar karena manusia bukan makhluk tanpa kelemahan. Yang penting ialah bagaimana ia merespons kesalahannya. Apakah ia membiarkan dirinya terus berada dalam kesalahan ataukah ia berusaha kembali kepada jalan yang benar?
Istiqamah bukan berarti tidak pernah jatuh. Istiqamah berarti tidak berhenti berusaha untuk bangkit dan kembali.
Inilah pendidikan iman yang sebenarnya. Iman harus menghasilkan kesadaran. Kesadaran harus mendorong amal. Amal yang terus dilakukan akan membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang baik kemudian membentuk karakter. Dan karakter yang dibangun di atas iman akan menolong manusia menghadapi berbagai keadaan dalam hidup.
Perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā sangat jelas dalam memberikan arah pendidikan ini. Siapa yang senantiasa hidup di atas syahadat di dunia akan mendapatkan pertolongan Allah untuk mengucapkannya di dalam kubur.
Kata kuncinya adalah **senantiasa**.
Bukan sekali-kali. Bukan hanya pada saat menghadapi kesulitan. Bukan pula hanya ketika suasana keagamaan sedang kuat. Tauhid harus menjadi dasar kehidupan secara terus-menerus. Ini memang tidak mudah. Manusia hidup dalam lingkungan yang berubah, menghadapi berbagai godaan, dan memiliki kelemahan. Tetapi justru karena itulah kita memerlukan latihan yang terus-menerus.
Doa berikut sangat tepat untuk menjadi bagian dari latihan tersebut:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa ini menunjukkan bahwa hati manusia dapat berubah. Karena itu, iman harus selalu dijaga. Tidak seorang pun dapat merasa aman sepenuhnya dengan kondisi keimanannya. Orang yang hari ini berbuat baik tetap harus memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk terus berbuat baik.
Dalam konteks kehidupan sekarang, pelajaran ini sangat relevan. Kita hidup pada masa ketika informasi agama mudah diperoleh. Ceramah dapat didengarkan kapan saja. Buku dan video keagamaan tersedia dalam jumlah besar. Namun kemudahan memperoleh pengetahuan belum tentu berbanding lurus dengan kemudahan membentuk akhlak.
Kita dapat mengetahui banyak, tetapi belum tentu melakukan banyak.
Maka tugas kita bukan sekadar menambah pengetahuan agama. Tugas yang lebih berat adalah mengubah pengetahuan menjadi amal. Kita harus mendidik diri agar terbiasa jujur, disiplin, amanah, adil, dan bertanggung jawab. Semua itu merupakan bentuk nyata dari iman.
Pada akhirnya, jawaban di alam kubur kelak berkaitan dengan kehidupan yang dijalani sekarang. Kita tidak mempersiapkannya hanya dengan menghafal, melainkan dengan membangun iman melalui kebiasaan hidup. Syahadat harus diucapkan, diyakini, dipahami, dan diamalkan.
Inilah pelajaran penting dari hadis tersebut: keteguhan di akhirat memiliki akar dalam kehidupan di dunia. Orang yang hidup di atas tauhid berharap memperoleh pertolongan Allah untuk tetap teguh. Oleh karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup, mari kita terus mendidik hati, pikiran, dan perilaku agar tetap berada di jalan Allah.
Kita mungkin tidak mampu menjadi manusia yang sempurna. Tetapi kita harus terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Dan ketika usaha itu disertai doa serta permohonan pertolongan kepada Allah, kita berharap Allah berkenan memberikan keteguhan kepada kita, di dunia dan di akhirat.
Wallahu 'alamu

إرسال تعليق