Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 276)
Di tengah maraknya generasi
yang makin akrab dengan konten instan, ada sesuatu yang terasa berbeda dari
lahirnya buku Kami Menulis Tanpa Menyerah karya siswa MTsN 2 Garut. Buku
ini bukan sekadar kumpulan cerita remaja biasa. Ia menjadi penanda bahwa masih
ada ruang pendidikan yang serius melatih proses berpikir, bukan hanya mengejar
hasil cepat.
Yang menarik, para siswa
menulis puluhan naskah tanpa bergantung pada kecerdasan buatan. Di saat banyak
orang mulai terbiasa mencari jawaban instan, siswa madrasah ini justru diajak
duduk, berpikir, merasakan, lalu menuangkannya menjadi tulisan yang jujur. Di
sinilah letak nilai pentingnya.
Literasi hari ini sedang
menghadapi tantangan besar. Banyak pelajar mampu membuat caption singkat,
tetapi kesulitan menyusun gagasan panjang. Banyak yang aktif di media sosial,
tetapi tidak terbiasa menulis pengalaman hidupnya sendiri secara runtut dan reflektif.
Akibatnya, kemampuan berpikir mendalam perlahan melemah.
Buku antologi ini
memperlihatkan hal sebaliknya. Tulisan para siswa berbicara tentang kehilangan
ayah, tekanan pertemanan, rasa malas, kegagalan, hingga perjuangan memahami
diri sendiri. Tema-tema itu mungkin sederhana, tetapi justru terasa dekat
dengan kehidupan remaja sekarang.
Yang patut diapresiasi
bukan hanya hasil akhirnya, melainkan prosesnya. Menulis membutuhkan disiplin,
konsistensi, dan keberanian menghadapi halaman kosong. Tidak semua siswa mampu
bertahan dalam proses panjang itu. Namun ketika madrasah memberi ruang untuk
menulis, siswa belajar satu hal penting: suara mereka layak didengar.
Di era digital, pendidikan
seharusnya tidak hanya mengajarkan cara memakai teknologi, tetapi juga melatih
kemampuan berpikir kritis dan menyampaikan gagasan secara utuh. Sebab tanpa
kemampuan itu, generasi muda hanya akan menjadi penonton di tengah derasnya
arus informasi.
Dan mungkin, dari ruang
kelas sederhana itulah lahir penulis-penulis masa depan yang tidak sekadar
pandai mengetik, tetapi juga mampu berpikir.

إرسال تعليق